News

Cemarkan Air Laut, eLKAPI Malut Kecam Aktifitas Tambang PT. Karya Wijaya di Pulau Gebe Halteng, Milik Gubernur Malut

Sebarkan:

 

Kondisi air laut rubah warna akibat aktifitas tambang PT. Karya Wijaya di pulau gebe

Sofifi, ST - Lembaga Kajian dan Advokasi Pertambangan (eLKAPI) Maluku Utara mengecam keras Aktivitas pertambangan di Pulau Gebe, Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng), Maluku Utara, yang berdampak pada perubahan warna air laut menjadi Coklat.

Sekjen eLKAPI Malut, Farid Ahmad, menyampaikan kekecamanya terhadap perubahan warna air laut akibat dari aktivitas pertambangan PT. Karya Wijaya yang tak lain milik Gubernur Maluku Utara, Sherly Djoanda, yang dianggap sebagai indikasi kuat pencemaran lingkungan dan merusak ekosistem serta membahayakan kesehatan manusia nantinya, khususnya di wilayah Halteng.

"Biasanya warna seperti ini, akibat limbah yang mengandung mineral seperti oksida besi dapat mengubah air menjadi kemerahan atau kecoklatan, ada juga seperti partikel sedimen membuat air keruh atau berlumpur, menunjukkan adanya perusakan dan gangguan pada ekosistem laut," terangnya, Selasa (07/10/2025). 

Olehnya itu, Kata dia, Dampak pencemaran Lingkungan yang di lakukan oleh PT. Karya Wijaya ini sangatlah besar lantaran diduga pertambangan ini kemungkinan melepaskan limbah ke laut, yang berisi mineral, sedimen, atau bahan kimia lainnya, menyebabkan perubahan warna air dan menurunkan kualitas air. 

"Kalau seperti ini PT. Karya Wijaya juga ikut serta dalam sisi kesehatan Ekosistem, dimana dapat bermasalah lantaran peningkatan konsentrasi oksida besi atau sedimen dapat mengganggu perairan, memicu alga berbahaya, hingga kematian biota laut," tuturnya.

Ia juga mengaku, selain dampak lingkungan hal ini juga sangat berpengaruh pada dampak Sosial, dimana Nelayan dan masyarakat pesisir seringkali menjadi pihak yang paling merasakan dampak negatifnya, karena aktivitas laut terganggu dan hasil laut menjadi tercemar. 

"Perubahan Warna Air Laut di Pulau Gebe ini jangan hanya dijadikan alasan semata, karena perubahan warna menjadi coklat seperti ini, pemerintah daerah sudah harus mengambil sampel untuk uji laboratorium guna mengetahui penyebab dan dampaknya. jika terbukti maka konsekwensi harus diberikan ke perusahan," katanya.

Kata dia sejauh ini, Kekhawatiran atas Keseimbangan Lingkungan, dimana Perubahan warna air laut yang ekstrem, seperti coklat memicu kekhawatiran dan spekulasi di masyarakat, yang seringkali dianggap sebagai pertanda bahaya. 

"Tolong pemerintah melakukan analisis kemungkinan dampak dan upaya pencegahan jangka panjang terhadap ekosistem laut yang terganggu," tutupnya. (Adi).

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini