Oleh: Ruslan Zainuddin, S. Pd,. M. Si
Kepala Bidang GTK, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara
Ruslan Zainuddin, S. Pd,. M. SiSofifi, ST - Setiap tahun, bangsa ini memperingati Hari Guru Nasional pada tanggal 25 November. Momentum ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi sebuah ruang refleksi yang sangat penting bagi seluruh pendidik, khususnya bagi kita di Provinsi Maluku Utara. Penetapan tanggal ini melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 menegaskan bahwa penghormatan terhadap guru adalah bagian dari upaya memastikan mutu pendidikan yang berkelanjutan.
Bagi kita para pendidik, refleksi bukan pilihan—melainkan kebutuhan profesional. Dalam konteks regulasi nasional, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menegaskan bahwa guru adalah tenaga profesional dengan mandat besar: mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Regulasi ini memberi dasar kuat bahwa profesi guru harus terus berkembang sejalan dengan tuntutan zaman.
Di sisi lain, berbagai peraturan menteri terkait tugas guru, pemenuhan beban kerja, pendidikan profesi guru (PPG), serta standar kompetensi memberikan penegasan bahwa kualitas pembelajaran sangat bergantung pada konsistensi peningkatan kompetensi guru. Oleh karena itu, refleksi Hari Guru harus diwujudkan dalam bentuk perbaikan nyata di ruang kelas, bukan sekadar rangkaian kegiatan seremonial.
Dalam konteks Maluku Utara, tantangan pendidikan masih cukup kompleks. Sebaran guru yang tidak merata, peningkatan kualitas pembelajaran, perubahan kurikulum, serta adaptasi teknologi menjadi isu yang perlu perhatian bersama. Namun di balik itu, kita juga menyaksikan banyak guru yang terus bekerja melampaui batas, menjaga semangat belajar siswa di kota, pulau, bahkan desa-desa terpencil. Keteguhan mereka menjadi modal penting bagi masa depan generasi Maluku Utara.
Sebagaimana pesan Ki Hajar Dewantara, “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Kutipan ini bukan hanya semboyan historis, tetapi kompas moral yang mengarahkan setiap guru untuk menjadi teladan di depan, penggerak di tengah, dan pemberi dorongan dari belakang. Di era perubahan cepat saat ini, filosofi tersebut semakin relevan: guru harus adaptif, reflektif, dan mampu menghadirkan pembelajaran yang manusiawi dan berbasis kebutuhan peserta didik.
Hari Guru Nasional adalah waktu terbaik bagi kita untuk mengingat bahwa pendidikan bukan hanya persoalan pengetahuan, tetapi juga tentang komitmen dan cinta. Komitmen untuk terus meningkatkan profesionalisme, dan cinta untuk memastikan setiap anak di Maluku Utara mendapatkan haknya atas pendidikan yang bermutu dan inklusif.
Dalam semangat itu, terdapat beberapa langkah prioritas yang perlu menjadi agenda refleksi para guru dan pemangku kepentingan pendidikan di daerah ini:
1. Melakukan refleksi pembelajaran secara rutin, baik melalui forum MGMP/KKG maupun diskusi sekolah, untuk merumuskan perbaikan nyata yang dapat diimplementasikan dalam waktu dekat.
2. Memastikan pemenuhan beban kerja sesuai regulasi, serta menyampaikan kebutuhan peningkatan kompetensi kepada dinas terkait melalui jalur resmi.
3. Meningkatkan partisipasi dalam program PPG, pelatihan, dan pengembangan profesi berkelanjutan, sebagai bagian dari tuntutan profesionalisme guru era modern.
4. Menguatkan budaya kolaborasi antar-guru, terutama di wilayah-wilayah dengan keterbatasan fasilitas maupun akses sumber belajar.
5. Menghadirkan pembelajaran yang inklusif, yang menjangkau seluruh peserta didik tanpa memandang latar belakang sosial, geografis, maupun ekonomi.
Sebagai Kepala Bidang Guru dan Tenaga Pendidik di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara, saya mengajak seluruh guru untuk menjadikan Hari Guru sebagai pengingat bahwa pekerjaan kita adalah pekerjaan peradaban. Di tangan para guru, masa depan daerah ini terbentuk. Di ruang kelas, harapan anak-anak Maluku Utara dirajut.
Terima kasih kepada seluruh guru yang telah memberikan pengabdian terbaik—baik yang bertugas di pusat kota, di pulau-pulau kecil, maupun di wilayah terpencil. Semoga refleksi Hari Guru Nasional tahun ini menjadi titik awal penguatan komitmen bersama menuju pendidikan Maluku Utara yang lebih maju, bermartabat, dan inklusif.
Selamat Hari Guru Nasional.
Teruslah menjadi pelita bagi generasi Maluku Utara. (Wadi).
