Suasana ke enam WNA tiba di gunung botak
Buru, ST - Kehadiran enam warga negara asing (WNA) asal Tiongkok di area pertambangan Kaku Lea Bumi, Desa Dava, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku, berapa hari kemarin, memicu tanda tanya publik.
Kedatangan mereka yang diduga terkait dengan keterlibat sebagai karyawan perusahaan milik ibu angkat koperasi, Helena Ismail hingga menimbulkan pertanyaan soal tujuan penggunaan tenaga asing dalam kegiatan yang semestinya harus menyerap tenaga kerja warga negara Indonesia.
WNA tersebut Patut dipertanyakan Visa mereka apakah Visa Toris, Niaga atau Visa Penelitian. Pasalnya setiap WNA mestinya ada keterangan tentang hal yang dimaksud .
Menurut sumber yang di terima media ini, pada Selasa (06/01/2026), meminta namanya tidak dipublikasikan, bahwa keenam WNA itu diduga merupakan karyawan perusahaan milik Helena Ismail.
"Ke-enam Warga Asing asal Tiongkok merupakan karyawan perusahaan milik Helena Ismail,” kata sumber tersebut.
Sumber juga menyebutkan bahwa mereka bekerja di bagian teknis obat. “Mereka adalah karyawan di bagian teknisi obat,” tambah sumber.
Menurutnya, Kecurigaan muncul karena Helena tercatat sebagai Ibu angkat Koperasi yang memiliki Izin Pertambangan Rakyat (IPR). IPR umumnya dikeluarkan untuk memberdayakan dan mempekerjakan WNI bukan WNA.
"Kehadiran tenaga asing dalam operasi di kawasan yang dikelola koperasi menimbulkan pertanyaan: apakah tujuan IPR tersebut dijalankan untuk mempekerjakan WNI atau justru mengalihkannya kepada tenaga asing?," tanyanya.
Kondisi warga WNA tiba di gunung botak
Menanggapi kabar tersebut, Kepala Dinas Koperasi Kabupaten Buru, Baharudin Besan, mengatakan bahwa pihaknya belum menerima informasi resmi mengenai kedatangan WNA ke daerah itu, apalagi sampai ke kawasan Gunung Botak.
“Kami sampai saat ini belum dapat informasi resmi tentang kehadiran sejumlah WNA, apalagi sampai pergi di kawasan Gunung Botak. Intinya, kami di Dinas Koperasi belum mengetahuinya,” ujar Baharudin.
Sekedar diketahui, upaya konfirmasi pemilik koperasi, Helena Ismail juga dilakukan, hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Helena. Wartawan telah mengirim pesan WhatsApp dan mencoba menghubungi yang bersangkutan melalui panggilan WhatsApp.
Namun, belum mendapat respons yang memadai, dari riwayat pesan terlihat bahwa Helena sempat membaca pesan tersebut (centang biru) dan hanya membalas singkat, “selamat pagi juga pak”.
Selain itu, Wartawan sudah upaya konfirmasi Kepala Dinas ESDM Provinsi Maluku, Haris, terkait informasi adanya WNA di kawasan Gunung Botak dan dugaan bahwa mereka adalah karyawan perusahaan milik Helena. Sampai berita ini diturunkan, Haris belum memberikan tanggapan.
Data yang diterima media ini, ke-enam WNA tersebut dari Tim Pemantau Orang Asing (PORA) Kabupaten Buru pada Sabtu, 3 Januari 2026 lalu. Nama dan keterangan posisi mereka di PT Harmoni Alam tercantum sebagai berikut:
- Manise Tan Weizhong — Teknisi Lapangan PT Harmoni Alam.
- Manise Li Jianfeng — Teknisi Lapangan PT Harmoni Alam.
- Manise Wu Yuesheng — Field Manager PT Harmoni Alam.
-Manise Wu Jing — Marketing dan Commercial Manager PT Harmoni Alam.
-Manise Peng Ke — Staf Teknis PT Harmoni Alam.
- Manise Cai Min — Staf Teknis PT Harmoni Alam.
Selain data domisili, tim PORA juga menyerahkan salinan paspor salah satu WNA yang menunjukkan masa berlaku paspor mulai 3 Januari 2024 hingga 3 Januari 2034. (Tim/Red).

