News

Gerakan Save Ake Gaale: Menyelamatkan Jantung Air Ternate dan Merawat Warisan Budaya Sangaji

Sebarkan:

 

Suasana rapat dengar pendapat

Ternate, ST - Air adalah sumber kehidupan, dan bagi masyarakat Kota Ternate, Ake Gaale bukan sekadar mata air biasa. Ia adalah urat nadi, sumber air bersih terbesar yang menyokong napas kota kepulauan ini. 

Namun, eksistensinya kini berada di persimpangan jalan antara gerusan pembangunan, ancaman lingkungan, dan pentingnya pelestarian sejarah.

Menurut Ketua Tim Pansus Revisi RTRW, Junaidi A. Baharudin, mengatakan bahwa Komunitas Save Ake Gaale melalui gerakan 'Save Ake Gaale', masyarakat adat dan komunitas lingkungan menyuarakan urgensi perlindungan kawasan ini dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Panitia Khusus (Pansus) Revisi RTRW DPRD Kota Ternate. 

Junaidi yang juga Ketua Fraksi Demokrat ini menjelaskan, ada tiga poin krusial yang menjadi landasan mengapa Ake Gaale harus diselamatkan sekarang juga.

Pertama, Tiga Zona Sakral yang Saling Mengikat. Berdasarkan kajian mendalam, termasuk penelitian kerentanan mata air selama 5 tahun (2017–2021) oleh USAID IUWASH, Ake Gaale ditopang oleh tiga wilayah ekologis yang tidak boleh diganggu gugat yaitu:

- Kawasan Tangkapan Air (Catchment Area): Membentang luas dari Buku Bandera hingga ke Siko/Toloko. Area inilah yang menangkap hujan dan menyimpannya di dalam tanah.

- Kawasan Sumber Air Utama: Berpusat di RW 04 Kelurahan Sangaji, yang mencakup sekitar 8 sumur Perumda, hutan sagu alami, dan aliran kali Ake Gaale.

- Kawasan Pemukiman dan Pesisir: Wilayah hilir yang sangat sensitif. Jika kawasan pesisir ini tidak ditata dengan baik, petaka intrusi air laut—seperti yang pernah terjadi pada tahun 2015-2016 lalu—akan kembali terulang dan mencemari sumber air tawar bersih kota.

“Gerakan 'Save Ake Gaale' mendorong agar ketiga wilayah ini segera ditetapkan sebagai Kawasan Lindung Mata Air sekaligus Ruang Terbuka Hijau (RTH). Rencananya, hutan sagu dan sumber air ini akan dikelola sebagai pusat wisata ekologis dan edukasi lingkungan,” ujar Junaidi, Selasa (19/05/2026). 

Kedua, memperluas Pesona Sejarah Benteng Toloko. Menyelamatkan Ake Gaale juga berarti mempercantik lanskap sejarah Ternate. Penataan kawasan ini dirancang terintegrasi sebagai area pendukung wisata Benteng Toloko.

“Komunitas mengusulkan adanya pembebasan lahan lanjutan di sebelah selatan benteng. Setelah pemerintah kota berhasil membebaskan 2 lahan kosong pada tahun 2020, kini diharapkan 11 rumah di samping kali juga dapat dipertimbangkan untuk direlokasi dengan adil. Tujuannya mulia: agar wisatawan yang berkunjung ke Benteng Toloko bisa menikmati panorama alam yang asri di bawah benteng, sekaligus memperluas zonasi cagar budaya,” tambahnya.

Sementara ketiga, Ritual 'Ake Ma Sou' dan Spirit Babari yang Tak Boleh Padam. Ake Gaale bukan hanya soal ekologi, tapi juga tentang identitas dan tradisi. Masyarakat Adat Sangaji Ake Gaale hingga kini masih teguh merawat kearifan lokal. Salah satu yang paling ikonik adalah Ritual "Ake Ma Sou", ritual adat menjaga mata air yang digelar bertepatan dengan Hari Air Sedunia setiap tanggal 22 Maret.

Selain ritual, Muhammad Suhud selaku Sekretaris Komunitas Save Ake Gaale juga menambahkan, masyarakat setempat juga mewarisi semangat Babari (gotong royong) yang sangat tinggi. Nilai-nilai budaya dan solidaritas sosial inilah yang berpotensi besar untuk dikemas menjadi event wisata budaya yang memikat, sekaligus mengedukasi generasi muda tentang pentingnya menjaga alam.

“Penataan kawasan pesisir Ake Gaale yang mayoritas merupakan basis nelayan, diharapkan tidak hanya fokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga menyentuh aspek konservasi lingkungan secara berkelanjutan. Menjaga Ake Gaale hari ini adalah investasi agar anak cucu kita di Ternate tidak krisis air bersih di masa depan. Mari bergerak, Save Ake Gaale,” tutupnya. (Tim/Red). 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini